Buru Selatan. Sebuah kabupaten baru di propinsi Maluku yang mulai berbenah. Keindahan pantainya yang menawan memberikan kesan pertama yg unik bagi kami ketika melihatnya dari atas udara. Namrole sebuah kota kecil yang dilingkupi pepohonan menghijau, menjadi ibukota kabupaten Buru Selatan sejak tahun 2008.

Pesawat kecil NBA membawa kami dari kota Ambon menuju Namrole selama kurang lebih setengah jam, dengan jarak pesawat yang tidak terlalu jauh dari daratan membuat kami dengan leluasa memandangi kota kecil itu melalui jendela pesawat.

Esok harinya pada sore hari kami berjalan menyusuri pesisir pantainya untuk melihat lebih dekat dan masuk ke dalam desa pesisir itu. Pohon kelapa yang selalu menjadi pagar ayu menyambut kedatangan kami disini.

Pesisir Desa Leksula memang indah dengan tebing gamping yang ditumbuhi pepohonan kecil dan ada banyak goa2 kecil dengan pasir putih yang lebar. Karena ombak yang lumayan besar kami tak bisa mengabadikan keindahan pantainya di sore itu.

nhdj.blogspot.com
langit sudah mulai gelap.., kami putuskan untuk balik kepenginapan. Dan melanjutkan perjalanan besok lagi.

Kopi, kelapa sawit dan kopra adalah pohon yang kami dapati disepanjang perjalanan yang telah banyak ditanam oleh penduduk setempat. Keesokan harinya kami memutuskan untuk berangkat menuju Kabupaten Buru, menyewa sebuah mobil innova untuk dipakai travelling karena mempunyai spasi yang cukup luas akan membuat kami lebih leluasa bergerak didalam mobil.

Ditengah perjalanan ada sungai yang menghalangi mobil kami menuju Desa Waemase, sungai itu dijaga oleh suku pedalaman yang hidup berkelompok. Seorang wanita dari suku tersebut menggantikan suaminya untuk sementara menarik rakit menyeberangkan kami ke sisi sungai disebelah demi mendapatkan beberapa rupiah, sementara anaknya asyik bermain-main dengan air.
Mereka hidup lebih bersahaja, dengan keinginan yang seadanya, hidup juga seadanya tanpa terlalu memikirkan politik yang selalu tak memikirkan mereka pula. Kata teman kami yang biasa datang ketempat ini dirumah rumah mereka tak ada Televisi ataupun radio, mereka hanya perlu seadanya untuk tinggal dan makan saja, tak perlu isi bensin karena mereka tak punya motor apalagi mobil. Dalam diskusi siang itu bersama Julius merasakan bahwa hidup mereka berputar seperti itu saja, sederhana bersahaja dan tak punya keinginan yang muluk muluk seperti menjadi presiden ataukah pikiran yang terkotori oleh berita gossip artis artis dunia dan lain-lain. Mungkin sesekali kita perlu mencicipi hidup seperti itu untuk sekedar membandingkan. Tapi tentunya akan berbeda sebab dasar berfikir kita sudah terpengaruh oleh aktifitas Urban kota dan Teknologi canggih sementara mereka belum tersentuh sama sekali, hanya cukup pakaian seadanya.

sepertinya kami telah melewati perbatasan Buru selatan dan masuk pada wilayah kabupaten Buru bagian utara. Istirahat sejenak, mengambil kamera dan Shot..!

Untuk trip ke Pulau Buru selanjutnya ada dipostingan berikut…
Salam Traveller,
Erwin





Indonesia memang kaya, kaya segalanya. Ini buktinya salah satu anugerah Ilahi yang membanggakan. Mari kita (pemerintah) jaga, supaya gak dicaplok pihak asing.
Keren fotonya, bro.
Indonesia memang kaya, tapi tidak diberdayakan dengan baik dan terencana. sebaiknya kita tidak melulu menyalahkan pihak Asing sebab dengan adanya mereka aktifitas ekonomi di Indonesia juga berputar dengan cepat. Tetapi kalau memang mampu pemerintah harus serius untuk mengembangkannya, terutama bebas dari korupsi… Thanks, Salam
mantabbb